Sukses

Studi: Zat Turunan Ganja Bisa Atasi Serangan Epilepsi

Liputan6.com, Philadelphia - Dua penelitian yang dipaparkan dalam suatu pertemuan epilepsi pada minggu ini menunjukkan bahwa cannabidiol (CBD)—yaitu suatu zat turunan non-psikoaktif dari mariyuana atau ganja—ternyata dapat membantu anak-anak penderita bentuk parah dan jarang suatu epilepsi.

Ada empat penelitian lagi yang akan dipaparkan dalam pertemuan tahunan American Epilepsy Society di Philadelphia. Semuanya menunjukkan bahwa CBD dapat secara efektif digunakan untuk mengurangi kejang pada pasien yang tidak berhasil ditangani dengan cara lain.

Dua penelitian tersebut di atas memang masih menggunakan hewan sebagai modelnya, misalnya tentang kemampuan toleransi CBD dan bagaimana interaksinya dengan obat lain. Sementara itu, dua lainnya menguji dampak jangka pendek maupun jangka panjang penggunaan obat berbahan dasar mariyuana. 

Baca juga: 

Persetujuan pengujian dengan CBD di sejumlah negara bagian semisal Kentucky, Alabama, dan Florida, seharusnya mempermudah para dokter untuk mengobati pasien penderita epilepsi.

Dr Orrin Devinsky, neurologis dari New York University Langone Medical Center, mengatakan kepada stasiun NPR bahwa ia tahu ada beberapa keluarga pindah ke negara bagian Colorado hanya untuk menjajal produk CBD atau mendapatkannya dengan cara-cara lain. Ini menyulitkan untuk mengetahui apa yang berhasil dan apa yang tidak, atau bagaimana pengobatan itu bisa berhasil.

Katanya melalui terbitan pers, “Dengan gembira kami laporkan data-data yang menjanjikan tentang sejumlah besar anak. Data ini memperkuat dan mendukung keamanan serta keampuhan yang pernah kami beberkan dalam penelitian-penelitian sebelumnya. Yang paling penting, data ini memberikan harapan kepada anak-anak dan keluarga mereka yang menjalani hidup dengan kejang yang menyiksa.”

Penggunaan cannabidiol (CBD) untuk epilepsi. (Sumber Brian Goodman/Shutterstock)

Devinsky memimpin penelitian selama 3 bulan terhadap 261 anak dan dewasa muda dengan umur rata-rata 11,8 bulan. Diagnosis yang paling lazim adalah Lennox-Gastaut Syndrome dan Dravet Syndrome (DS).

Setelah perawatan selama 3 bulan, serangan kejang pada para pasien berkurang dengan median 45,1% pada semua pasien dan 62,7% pada pasien DS. Di antara semua pasien, 47% mengalami setidaknya 50% penurunan serangan kejang. Pada 13% pasien DS, mereka terbebas dari kejang setelah perawatan 3 bulan tersebut.

Para peneliti juga melaporkan tentang terapi bersama clobazam (Onfi), yang juga terkait dengan penurunan serangan kejang.

Setelah percobaan awal selama 3 bulan itu, para peneliti di University of California San Francisco menyertakan 25 di antara pasien tersebut dalam penelitian baru untuk dirawat dengan CBD selama 1 tahun. Frekuensi serangan kejang dihitung pada bulan ke-3 dan bulan ke-12. Hasilnya, para peneliti menduga adanya pengurangan 50% kejadian kejang sebagai tanggapan kepada perawatan itu.

Dalam waktu 3 bulan penelitian, ada 8 pasien menanggapi CBD, dengan 3 di antaranya terbebas dari kejang dan 5 sisanya mengalami setidaknya penurunan 50% serangan kejang. Dalam 12 bulan, ada 10 di antara 25 pasien itu yang mengalami setidaknya penurunan serangan kejang hingga 50%, dan 1 pasien masih tetap terbebas dari kejang.

Tak hanya itu, 12 pasien menghentikan perawatan CBD karena tidak mujarab dan hanya 1 orang yang dihentikan obatnya karena malah mengalami peningkatan frekuensi kejang yang oleh para dokter dipandang terkait dengan perawatan yang sedang dijalankan. (*)