Sukses

Bahagia, Sedih, atau Keduanya?

Liputan6.com, Amherst - Coba pikirkan tentang saat-saat paling menyenangkan dalam hidup, entah bersama keluarga, waktu untuk diri sendiri, ataupun menikmati kesuksesan besar dalam pekerjaan. Jujurlah, pada saat-saat itu, apakah kamu benar-benar diliputi 100% kebahagiaan?

Misalnya kita memiliki saat romantik bersama pasangan, merasakan paling dicintai dalam hidup ini. Tentu saja berbahagia, tapi apakah kita bisa menyatakan dengan yakin bahwa tidak ada emosi kesedihan menyusup masuk dalam alam sadar kita? Apakah ada secercah pikiran mengingatkan bahwa kita besok harus ke luar kota? Atau pemikiran bahwa saat indah itu akan segera berakhir? Kalau merasakannya, selamat datang di dunia emosi campur aduk.

Dikutip dari Psychology Today pada Rabu (02/12/2015), ada suatu teori yang mengatakan bahwa satu-satunya cara untuk meraih kesejahteraan terbesar adalah dengan terus menerus bergembira. Sejumlah negara bahkan menggunakan indikator kegembiraan untuk mengukur bagaimana sistem politik dan ekonomi negara terasa untuk warganya.

Ilmuwan kegembiraan mengatakan kepada kita bahwa walaupun kita mendambakan hal utama dalam hidup semisal menikah dan memiliki anak, namun ketika kita menjalaninya kita malah kecewa, dan itu tidak baik. Sukar dibayangkan ada orang yang begitu bergairahnya setiap kali harus mengganti popok atau menghadapi anak yang memerlukan 20 menit untuk mengulangi dongeng sebelum tidur yang sama setiap malam.

Jelaslah bahwa ada yang lebih dalam hidup daripada sekedar kegembiraan sederhana dan, seperti yang diungkapkan dalam penelitian, pemuasan akan suatu hal tidak selalu berarti kegembiraan. Seseorang bisa saja benar-benar didera pada suatu hari tapi tetap masih merasa sedang melakukan sesuatu untuk mencapai tujuan-tujuan penting yang meningkatkan rasa pemenuhan itu.

Tentu saja sebuah popok tidak mengenakan ketika harus menggantinya, tapi manusia mungil itu memberikan perasaan kenikmatan yang lebih mendalam daripada semua waktu bersantai bersama dengan teman-teman.

Seseorang yang perlu perhatian itu tidak harus mungil, bukan? Penelitian tentang pengasuhan di masa dewasa menunjukkan bahwa, betapapun menekannya suatu keadaan, mereka yang memberikan dukungan kepada pasangan atau kerabatnya kerap melaporkan kesejahteraan subyektif yang lebih tinggi daripada rasa gembira yang dapat diduga secara teoritis (bacalah van Campen dkk, 2013).

Sepertinya kita harus belajar sepanjang hidup kita bahwa kegembiraan bukanlah segala sesuatu dan akhir dari semua perasaan yang terpenuhi melalui pengalaman kita.

Selain itu, kita juga belajar bahwa ternyata cukup sulit untuk merasakan 100% kegembiraan jadi kita harus menerima campuran kegembiraan dan kesedihan dalam banyak hal dalam momen kehidupan. Menurut Teori Emosi Diferensial, dengan bertambahnya usia dan pengalaman, pemikiran dan perasaan menjadi semakin kompleks dan ruwet.

Penghargaan kita kepada hal remeh temeh dalam pengalaman dan kejadian memungkinkan kita untuk hidup secara lebih nyaman sesuai dengan fakta bahwa tidak ada satupun yang 100% positif ataupun negatif.

Stefan Schneider dan Arthur Stone dari University of Southern California (2015) menguji keberadaan emosi yang campur aduk berdasarkan kelompok usia menggunakan dua panel survey di tingkat nasional terdiri dari orang berusia 15 hingga 90 tahun di AS.

Mereka meminta para peserta untuk mengingat kejadian di hari sebelumnya dan kemudian menilai kebahagiaan di 3 kejadian tersebut dengan menggunakan dua skala penilaian yang berbeda.

Satu skala penilaian memiliki pertanyaan, “Dari angka 0 hingga 6, seberapa (gembira/sedih) perasaanmu saat itu?”

Skala ke dua menggunakan kalimat sedikit berbeda, “Dari angka 0 hingga 6, di mana 0 berarti kamu tidak (gembira/sedih) sama sekali dan 6 berarti kamu sangat (gembira/sedih), seberapa (gembira/sedih) perasaanmu pada saat tersebut?”

Pertanyaan-pertanyaan itu menghasilkan penilaian atas sekitar 50.000 kejadian dengan waktu kejadian rata-rata sedikit di atas 2 jam pada satu sampel dan 1 jam pada sampel yang lain.

1 dari 2 halaman

Apakah Emosi yang Tercampur Itu?

Secara umum, orang akan lebih gembira daripada lebih sedih dalam episode-episode tersebut. Pertanyaan sesungguhnya mengarah kepada seberapa bercampurnya emosi seseorang, dan apakah ada pola teratur yang mengkaitkan percampuran emosi dengan usia.

Untuk menuju ke situ, Schneider dan Stone harus mencari cara mengartikan “percampuran” emosi. Ada 3 pilihan.

Pertama adalah penggunaan kovarian, di mana percampuran emosi muncul sebagai ukuran statistik tentang seberapa jauh penilaian setiap orang dari angka -1. Jika memiliki percampuran emosi yang tinggi, penilaian positif tidak terlalu berkaitan dengan penilaian emosi negatif.

Ke dua, percampuran emosi menggunakan ambivalensi sebagai cara ukurnya. Semakin tercampurnya penilain negatif dan positif untuk suatu episode, semakin tercampurlah emosi seseorang.

Terakhir, seseorang dapat secara mudah digolongkan sebagai kombinasi kategori tinggi-rendah di mana ia bisa tergolong bahagia seluruhnya, secara umum tinggi dalam kebahagiaan dan kesedihan sekaligus (benar-benar tercampur), atau rendah di dua dimensi itu.

Ternyata, definisi yang pasti tentang emosi campur-aduk tidak begitu berbeda. Haslnya menunjukkan pola yang bisa dibedakan menurut usia, walau perbedaannya sedikit. Semakin tinggi umur peserta, semakin besarlah kemungkinannya ia muncul sebagai emosi campur-aduk.

Hasil ini tetap begitu walaupun dengan memperhitungkan faktor-faktor lain terkait usia, semisal masa pensiuan atau ketunaan. Dengan kata lain, bagaimanapun cara kita memberikan definisi, orang yang lebih tua tampaknya lebih mampu melihat pengalaman hidup dari semua sudut pandang yang mungkin. (Alx)**

Video Populer

Foto Populer