Sukses

Larangan Bersin Sembarangan Tidaklah Sembarangan

Liputan6.com, Cambridge - Sejak kecil, kita diajarkan sopan santun untuk menutup hidup dan mulut ketika bersin. Ternyata, hal itu bukan tanpa alasan. Suatu rekaman video kecepatan sangat tinggi tentang bersin dimainkan ulang dalam kecepatan rendah dan kelihatanlah alasan kesehatan yang mendukung ajaran sopan santun tersebut.

Dalam video unggahan Fluid Dynamics of Disease Transmission Laboratory di Massachusetts Institute of Technology (MIT), terlihat bagaimana semburan cairan tubuh berlangsung. Terlihat menjijikkan, tapi begitulah adanya.

Dikutip dari Science Alert pada Senin (30/11/2015), para peneliti itu merekam dua orang yang bersin sekitar 50 kali. Hasil temuannya belum pernah diketahui sebelumnya, yaitu bahwa tetesan bersin dibentuk dalam “awan bersin semburan-tinggi” di luar mulut dan saluran pernafasan.

Kata Lydia Bourouiba dari laboratorium tersebut, “Tetesan-tetesannya belum terbentuk maupun tersebar secara rapi menurut ukuran di jalan keluar mulut. Tidak seperti dugaan sebelumnya dalam beberapa makalah.”

Tetesan-tetesan cairan tubuh itu melontar menembus udara dalam pecahan-pecahan bertahap yang kompleks setelah keluar dari saluran pernafasan dan melintasi bibir.

Selain menggunakan video itu untuk mencuplik dinamika bersin, para peneliti juga menggunakan algoritma pengambilan data dan teknik visualisasi 3D untuk mengerti bagaimana kita bersin dan terbangnya ludah di udara.

Salah satu kegunaan pengertian ini misalnya ketika berhadapan dengan penyakit menular semisal campak, flu, ataupun SARS yang dapat disebarkan melalui bersin. Virus-virusnya menunggangi tetesan-tetesan cairan tubuh yang bisa terhirup, tertelan, ataupun menempel di berbagai permukaan dalam ruangan maupun di luar ruang.

Para peneliti belum mengetahui dengan pasti seberapa jauh bersin itu merambat, tapi Bourouiba dan timnya pada tahun lalu mendapati bahwa bersin dapat memindahkan tetesan pembawa patogen jauh melebihi apa yang diduga sebelumnya, dan bukan hanya dalam ukuran yang terlihata ataupun terasa.

Dalam beberapa menit, tetesan yang lebih kecil mengambang di udara dalam bentuk gas dan dapat merambat sepanjang ruangan sehingga bahkan mencapai saluran ventilasi setinggi atap.

“Inilah yang terlewatkan ketika merancang kebijakan pengendalian dan pencegahan untuk kesehatan masyarakat, khususnya ketika cara-cara yang mendesak diperlukan di kala wabah dan pandemik,” kata Bourouiba.

Penelitian baru ini dipaparkan dalam bulan ini dalam pertemuan tahunan American Physical Society, cabang Division of Fluid Dynamics. Rencananya, penelitian ini akan diterbitkan dalam jurnal Experiments in Fluids. (Alx)