Sukses

Saat Sinus Menyerang

Liputan6.com, Jakarta Saat kita bernapas, salah satu partikel yang terhirup dari udara adalah kuman. Kita tak pernah tahu berapa banyak kuman yang masuk ke saluran napas itu dan akan menuju ke mana. Jika kuman-kuman itu memenuhi rongga sinus, bisa timbul infeksi. Ketika kuman sudah mengumpul di dalam rongga sinus, lendir di rongga ini akan lebih kental dan berubah warna. Inilah yang disebut sinusitis.

Gejala sinusitis tak hanya hidung tersumbat dan demam, seperti flu biasa, tetapi juga disertai gejala khas, yaitu ingus kental berwarna kekuningan, kuning, atau bahkan hijau. “Kalau mengalami gejala itu, jangan dibiarkan. Sinusitis dapat menyebabkan pembengkakan pada beberapa bagian rongga hidung dan memengaruhi fungsi organ tubuh lainnya,” papar DR. Dr. Trimartani, Sp.THT-KL(K), spesialis Telinga Hidung Tenggorokan dari RS Gading Pluit, Kelapa Gading, Jakarta.

Sinusitis berasal dari dua kata, sinus yang berarti rongga di sekitar hidung yang bermuara pada hidung, dan itis yang artinya radang. Jadi, sinusitis adalah peradangan pada rongga di sekitar hidung, khususnya pada selaput lendir yang terdapat di sepanjang saluran napas. Selaput lendir tersebut menghasilkan lendir di setiap rongga sinus dan sepanjang saluran napas.

Di sepanjang saluran napas ada empat macam rongga sinus. Pertama, sinus maxilla, yaitu sinus sepasang yang terletak di belakang dinding pipi kanan dan kiri. Sinus frontal, yakni sinus sepasang yang terletak di dahi kanan dan kiri. Sinus sphenoid yang terletak di belakang rongga hidung, sedangkan sinus ethmoid yang terletak di bawah rongga mata.

 

 

1 dari 7 halaman

Waspadai Lendir Kekuningan

Waspadai Lendir Kekuningan
Pada penderita sinusitis, lendir kental bisa mengalir keluar dari rongga sinus atau tersumbat di dalam rongga sinus. Kondisi ini tergantung pada bentuk anatomi pintu rongga sinus. Bila anatomi rongga hidung kecil, termasuk pintu rongga sinus, lendir sulit keluar dan bisa terjadi sumbatan serta pembengkakan di dalam rongga sinus. Bila anatomi bentuk hidung lebih besar, lendir bisa keluar, baik itu (normalnya) menuju hidung dalam bentuk ingus kental atau keluar menuju tenggorokan, paru-paru sampai ke organ pencernaan (usus).

Selain itu, faktor imunitas yang sedang turun disertai faktor di luar tubuh seperti kurang istirahat, stres, dan faktor pemicu alergi pun bisa menjadi penyebab mudahnya kuman-kuman masuk ke dalam rongga hidung dan akan menyebabkan timbulnya sinusitis.

“Bila penderita mengalami gejala sinusitis paling tidak selama 12 pekan tanpa henti, meskipun sudah diberi obat-obatan, dapat dikatakan ia menderita sinusitis kronis,” ujarnya. Mengalami sinusitis lebih dari empat kali dalam setahun juga dapat dikategorikan kronis.

 

 

2 dari 7 halaman

Ganggu Usus dan Telinga

Ganggu Usus dan Telinga
Kalau sudah sudah terdapat gejala khas sinusitis, sebaiknya memeriksakan diri ke dokter spesialis THT. Jangan sampai lendir kental yang berhasil keluar dari rongga sinus tidak menuju rongga hidung, melainkan mengalir ke belakang menuju tenggorokan, paru-paru, hingga ke saluran pencernaan, yang bermuara pada usus, dan akan menyebabkan fungsi usus terganggu. Karena terganggu, usus tidak mampu mampu mencerna sisa makanan menjadi bentuk kotoran yang seharusnya, bisa terjadi diare atau konstipasi.

Pada beberapa kasus sinusitis, ungkap Dr. Trimartani, lendir kental yang secara tidak sengaja (saat terisap kencang) masuk bersama kuman ke dalam tuba eustachius (lubang di pangkal hidung yang dihubungkan oleh saluran ke telinga bagian dalam) akan menyebabkan peradangan di bagian pangkal lubang tersebut, sehingga menimbulkan bengkak. “Jika dibiarkan, bengkak tersebut akan menutup lubang dan mengganggu sirkulasi udara dari dan menuju telinga, sehingga dapat mengurangi fungsi pendengaran si penderita,” katanya.

 

 

3 dari 7 halaman

Bisa Karena Alergi

Bisa Karena Alergi
Orang yang memiliki alergi juga mudah terkena radang sinus. Sebaliknya, alergi dapat memperberat sinusitisnya. Alergi, infeksi, atau pemicu dari lingkungan bisa menambah produksi lendir atau mengubah karakter lendir di hidung, dan memunculkan gejala.

“Radang di sekitar sinus, seperti radang amandel, radang tenggorokan, radang gigi geraham atas juga bisa memicu timbulnya sinusitis,” tambahnya.

Sinusitis bisa bersifat akut (berlangsung sekitar empat minggu) atau kronis yang lebih lama. Sinusitis akut sering dimulai dengan flu dan terjadi infeksi bakteri. Selain pilek dan batuk, gejala sinusitis di antaranya demam, lesu, lemah, letih.

Sakit kepala sering dikeluhkan penderita, yang umumnya terjadi di dahi, ujung mata, dan sekitar pipi. Nyeri juga bisa terasa di belakang mata, di tengkuk, bahkan menjalar ke gigi. Kalau kepala digerakkan sedikit saja rasanya nyeri itu bertambah berat. Sakit kepala biasanya disertai hidung tersumbat, pilek, sesak napas. Iritasi karena parfum, asap rokok, dan alergen lain bisa memperburuk kondisi tersebut.

 

 

4 dari 7 halaman

Diagnosis Tidak Mudah

Diagnosis Tidak Mudah
Sinusitis akut kadang tak mudah didiagnosis karena infeksi bakteri atau virusnya tidak terlalu jelas, seperti yang terjadi pada flu biasa. Selain pemeriksaan fisik, dokter mungkin perlu melakukan penyinaran pada sinus dengan sinar X atau mengambil contoh cairan hidung untuk melihat ada tidaknya bakteri.

Jika sinusitis atau infeksi terjadi setidaknya tiga bulan, bisa dibilang sinusitis kronis. Sinusitis kronis yang tidak ditangani secara baik menyebabkan kerusakan sinus dan tulang hidung, dan bisa memerlukan operasi untuk memperbaikinya.

Sinusitis bisa berkomplikasi ke berbagai organ. Bisa menyebabkan mata bengkak, kelainan paru misalnya bronkitis kronis, bahkan abses otak dan meningitis.

 

 

5 dari 7 halaman

Hirup Udara Bersih dari Pepohonan

Hirup Udara Bersih dari Pepohonan
DR. Dr. Trimartani, Sp.THT-KL(K), dari RS Gading Pluit, Kelapa Gading, Jakarta, berpesan agar kita segera memeriksakan diri ke dokter spesialis THT bila merasakan gejala khas sinusitis. Jangan biarkan sinusitis menjalar dan mengganggu fungsi organ, seperti telinga.

Sinusitis bakteri, ujarnya, tak seperti flu biasa karena perlu didiagnosis dokter. Diperlukan pengobatan dengan antibiotik untuk mengatasi infeksi sekaligus mencegah komplikasi. Obat pereda nyeri dan pelega hidung tersumbat (dekongestan) diperlukan.

Menggunakan kompres hangat pada bagian yang meradang juga bisa membantu. Tujuan utama pengobatan sinusitis adalah mengurangi peradangan di hidung dan daerah sinus tidak lagi tersumbat, sehingga meningkatkan daya aliran. Antibiotik diperlukan agar kuman tidak berkembang biak di dalam rongga sinus.

“Pada flu biasa, pemberian antibiotik dilakukan untuk jangka waktu lima hari, sedangkan pada sinusitis, antibiotik diberikan untuk jangka 7-10 hari,” tutur Dr. Trimartani.

 

 

6 dari 7 halaman

Memakai Endoskopi

Memakai Endoskopi
Pada sinusitis akut atau kronis, dokter spesialis THT akan menggunakan endoskopi untuk menentukan kondisi sinusnya, mengetahui di mana “blokade” lendir terjadi. Jika peradangan sudah parah, dokter akan menempuh tahap akhir dengan mengambil tindakan pembedahan untuk membuka saluran sinus dan membuang gumpalan lendir.

“Pembedahan juga dilakukan untuk mengefektifkan pemberian antibiotik, sehingga bisa tepat pada lokasi sinus yang terinfeksi,” katanya.

Terlepas dari metode pengobatan yang ada, hal terpenting yang harus dilakukan menurutnya adalah melaksanakan pola hidup sehat dan bersih, agar kita terhindar dari infeksi kuman yang bisa menimbulkan sinusitis atau penyakit lain. “Lakukan olah raga sederhana di luar rumah yang terdapat tanaman atau pepohonan di pagi hari,” ujarnya.

Meski terkesan sepele, olah raga di pagi hari membuat kita bisa menghirup udara bersih dari pepohonan. Usahakan pula untuk menjauhkan diri dari faktor pemicu alergi, terutama bagi mereka yang rentan alergi, guna meminimalisasi infeksi kuman.