Sukses

Psikolog Menilai Fenomena Prabowo

Liputan6.com, Jakarta Pesta demokrasi pilpres sudah mendekati babak akhir. Hasilnya sudah pasti, yakni kemenangan calon presiden nomer urut 2, Joko Widodo menurut KPU.

Bagaimanapun juga, banyak yang mengakui bahwa pemilihan calon presiden kali ini tampak luar biasa karena gairah peran serta yang tinggi dari masyarakat yang jarang bahkan nyaris tidak pernah kita alami sebelumnya.

Volume peredaran informasi di berbagai media elektronik, cetak, dan media sosial menunjukkan hal tersebut.

Meskipun berada di pihak yang kalah, mau tidak mau harus diakui bahwa calon presiden nomer urut 1 adalah sosok yang fenomenal. Dari sudut pandang tertentu, kontribusi beliau terhadap kegairahan pesta demokrasi pemilihan pemimpin negeri periode ini harus diakui.
Menarik untuk melihat kembali bagaimana perjalanannya mulai masuk ke dunia politik hingga saat ini dari sudut pandang psikologi.

Dari berbagai media, banyak orang yang mengetahui bahwa calon presiden nomer 1 tersebut telah cukup lama mempersiapkan “pertarungan” ini. Baik lewat pembentukan partai politik, organisasi massa, membangun jaringan, maupun pengenalan dirinya di media masa. Harus diakui, hal ini telah menempatkan calon ini sebagai salah satu sosok yang melekat di ingatan banyak orang di negeri ini.

Dengan persiapan yang cukup lama dan matang, calon nomer 1 ini tampaknya mulai yakin akan dapat memenangkan pemilihan pemimpin negeri periode ini. Keyakinan ini semakin diperkuat dengan dukungan yang mengalir dari banyak pihak.

Seperti yang diberitakan di berbagai media, koalisi yang kemudian dinamakan koalisi merah putih merupakan koalisi yang lebih besar dari koalisi pendukung calon presiden nomer urut 2. Koalisi ini, jika tetap solid, akan mampu mengarahkan berbagai keputusan lembaga legislatif yang telah terbentuk sebagai hasil pileg periode ini.

Terakhir, dukungan untuk calon presiden nomer urut 1 yang juga mengalir dari berbagai organisasi masa misalnya FPI dan FBR agaknya juga memperkuat keyakinannya untuk menang.

1 dari 2 halaman

Tak selalu terpenuhi

Tidak selalu terpenuhi

Apa yang terjadi dalam kenyataan tidaklah selalu seperti yang diyakini meskipun keyakinan tersebut bisa sangat kuat. Ketika kemudian sedikit demi sedikit, kenyataan menunjukkan hal yang semakin berbeda dengan keyakinan, mulailah muncul beban psikologis berupa kepanikan.

Tingkat kepanikan yang dialami menjadi semakin tinggi ketika teman-teman yang sebelumnya tampak solid bahkan berjanji membentuk “koalisi yang permanen” satu persatu mulai ancang-ancang untuk berkhianat.

Jika dilihat dari berbagai pemberitaan di media, ada 3 hal yang menjadi indikator kepanikan tersebut. Pertama adalah munculnya agresivitas verbal. Beberapa awak media memberitakan adanya perlakuan ini baik dari sang calon sendiri atau pun dari tim pendukung.

Kedua adanya perilaku inkonsisten. Perilaku ini sedikit banyak mengindikasikan adanya sisi manipulatif dalam diri calon nomer urut 1. Misalnya saja mengatakan bahwa hanya akan mempercayai pengumuman resmi KPU namun di sisi lain membuat acara syukur kemenangan sebelum KPU mengeluarkan pengumuman dan pada akhirnya menolak pengumuman KPU.

Ketiga adalah adanya perilaku regresi. Perilaku regresi adalah indikasi perilaku individu yang tidak mau menghadapi kenyataan yang tidak menyakitkan karena biasanya tidak sesuai dengan keinginannya.

Hal ini tampak dari pernyataannya beberapa jam sebelum KPU mengeluarkan pengumuman resmi namun sudah dapat diprediksikan siapa pemenangnya. Alih-alih menempuh jalur hukum ke MK, calon nomer urut 1 justru menarik diri (dapat dibaca “mengundurkan diri”) dari pencalonan dengan alasan dirugikan oleh berbagai kecurangan di lapangan.

Apa yang terjadi pada calon nomer urut 1 tentunya tidak dapat dilepaskan dari pengaruh yang tampaknya cukup kuat dari orang-orang di sekitarnya. Bagaimana yang bersangkutan meyakini dirinya tidak dapat dilepaskan dari pendapat dan informasi yang diterima dari orang-orang di sekitarnya tersebut.

Akan bijak kiranya jika siapa pun yang ada dalam posisinya lebih memilih untuk tidak hanya menerima gagasan dan informasi dari orang-orang yang ada di sekitarnya, kelompoknya sendiri yang dalam banyak kasus bisa bias (misal karena berprinsip “asal bapak senang”), namun juga membuka diri terhadap adanya kemungkinan informasi dari luar kelompok meskipun informasi tersebut mungkin tidak selalu seperti yang diharapkannya.

Heri Widodo M.Psi, Dosen Psikologi Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta yang sedang menyelesaikan studi Doktoral di Universitas Gajah Mada

Artikel Selanjutnya
Perlunya Jakarta Belajar Politik Secara Dewasa
Artikel Selanjutnya
Pilkada DKI 2017 Bisa Bikin Anda Jomblo Lebih Lama