Sukses

Begini Cara Orangtua Lindungi Anak dari Predator Seksual

Liputan6.com, Jakarta Orangtua sebenarnya bisa menandai orang-orang yang bermaksud melakukan kejahatan seksual kepada anaknya. Dengan cara tersebut tentu membuat orangtua bisa mencegah hal-hal yang tak diinginkan. Seorang predator seksual biasanya sebelum beraksi melakukan berbagai persiapan untuk mengamankan aksinya agar tak ketahuan.

"Nah saat pelaku mulai beraksi itu kita bisa menandai dan melindungi sebelum jatuh korban. Cara predator seksual beraksi terbagi dua yaitu mereka yang melakukan pendekatan terlebih dahulu dan mereka yang melakukan serangan secara mendadak," kata Psikolog Nunki Suwardi yang juga merupakan Pendiri Pusat Studi & Aplikasi Psikologi Komunikasi Bawah Sadar dalam tulisan yang dikirimkan ke Tim Health Liputan6.com, Senin (28/4/2014)

Nungkin mengutip Leigh Baker dari Trauma Treatment Center of Colorado tentang ada lima langkah yang dipersiapkan pelaku sebelum beraksi:

1. Pemilihan Target

Pelaku mengamati gerak-gerik anak-anak yang menjadi targetnya saat mereka bermain atau beraktivitas. Pelaku menandai mana anak-anak yang mudah ditundukkan dan mana yang tidak. Anak-anak yang percaya diri, kritis, dan berani tidak menjadi pilihan target mereka. Anak-anak yang nampak lemah, pemalu, penyendiri, penurut menjadi target favorit mereka.

"Untuk memastikan ketepatan target yang dipilih, pelaku akan mengetes targetnya melalui sentuhan. Pelaku berpura-pura menyentuh atau mengelus tubuh calon korban. Mulanya di bagian terbuka seperti tangan yang terbuka lalu merambat bagian lain seperti punggung, paha, dan seterusnya. Jika korban hanya diam saja tidak melawan dan menghindari sentuhan tersebut, pelaku menandainya sebagai sinyal persetujuan. Sebaliknya jika anak menjauh, memutar tubuhnya atau menepis tangan pelaku, maka pelaku menandai korban tak mudah ditaklukkan dan akan mencari mangsa lain."

Kadang orang-orang dewasa perlu menenangkan atau menyentuh anak. Namun cara sentuhan intim seperti mengelus dan menggerayangi bukanlah sentuhan yang bermakna bagus. Elusan lebih dari 2-3 menit apalagi di area yang tak semestinya harus membuat anda segera waspada ada yang tak beres.

"Anda harus beritahu anak menjauh dan menepis tangan orang yang menyentuhnya serta menegur pelaku agar tak melakukannya lagi. Ajarkan anak membedakan mana sentuhan normal dan sentuhan tidak normal," kata Nunki.

Menurut Edward Thorndike, kita semua dibekali insting penginderaan untuk membedakan sentuhan yang wajar dan tidak. Ajarkan juga bahwa area genital adalah bagian yang hanya boleh disentuh oleh anak sendiri dan petugas seperti dokter untuk alasan medis dan selama pemeriksaan medis tsb ia harus di damping orang tua. Pengetahuan ini akan membantu anak melindungi dirinya sendiri saat orang tua tak bisa mengawasinya sementara predator mengintainya.

2. Pendekatan

Ibarat pacaran, pelaku berusaha mendekati dan berpura-pura baik pada anak sambil mengumpulkan informasi diri anak. Pelaku menandai tanda-tanda fasial seperti bibir yang cemberut, alis mata yang menaik dan keluhan2nya untuk mengetahui sejauh mana perasaannya terhadap teman2nya, kakak adik, guru dan orang tuanya. Rasa sedih dan kebingungan yang dihadapi anak membuat pelaku bertindak seolah peduli atas keluhan anak. Tujuannya untuk mendapat simpati dan kepercayaan anak agar pelaku makin bebas mendekati anak.

Untuk mendukung aksinya, pelaku menghujani anak dengan perhatian, hal-hal yang diinginkan anak dan membelikan hadiah-hadiah. Jika anak membutuhkan figur kebapakan atau keibuan, maka pelaku akan melakukannya. Bagi seorang anak, tubuh pelaku yang lebih besar darinya, perhatian serta kepedulian pelaku menimbulkan rasa aman. Dalam psikologi, proses ini dikenal sebagai nama transferens, sebuah fenomena dimana anak dengan mudah menerima apa saja yang disampaikan pelaku.

"Jika pelaku seseorang yang memiliki otoritas atau tokoh yang dihormati seperti guru, pemuka agama atau orang yang dipercayai maka tingkat transference anak pada pelaku makin tinggi sementara pelaku makin leluasa memperdaya dan menjalankan aksinya," tulis Nunki.

Sinyal bahaya yang dapat ditandai orang tua di tahap ini yaitu pelaku memperlihatkan bahasa tubuh yang selalu condong tertuju pada anak. Sinyal yang bisa diamati yaitu sorot mata pelaku yang lekat pada lekuk tubuh anak, terpukau, mirip seperti rusa yang diam terpaku saat tersorot cahaya.

"Bila anda sebagai orangtua melihat banyak anak di sekitar tapi pelaku hanya mencurahkan waktu dan akrab dengan anak Anda saja disertai bahasa tubuh yang intim, banyak mengelus, menepuk, condong selalu ingin dekat anak, Anda patut curiga ada hubungan yang tak wajar telah terjalin."

Minta anak menjaga jarak dengan pelaku dan minta ia melapor segera jika ada sentuhan dan hal-hal tak wajar. Minta pelaku agar tidak menyentuh dan menjauh dari anak.

3. Penaklukan.

Sambil tetap menunjukkan kedekatan dan keintiman dengan anak, pelaku menunjukkan sikap yang lebih jelas dan tegas mendominasi anak dengan cara memerintah anak mematuhinya. Di tahap ini, orangtua bisa menandai anak menghabiskan waktu lebih banyak dengan pelaku dan pelaku minta anak merahasikan apa yang mereka lakukan. sekali anak terjebak perangkap pelaku di tahap ini, tahapan dengan cepat naik ke tahap keempat.  

4. Pemantasan (grooming)

Di tahap ini ini makin sulit bagi orang dewasa melihat ada yang tidak beres karena kejadian berlangsung di tempat yang pribadi. Pelaku mulai berani menggerayangi bagian-bagian tubuh sensitif anak disertai ancaman agar anak tidak membocorkan rahasia dengan menakut-nakuti akan menyiksa dan memukulnya

Satu-satunya cara mendeteksi yaitu orangtua lebih sering bertanya apakah ada orang yang pernah mencium, mengelus, menggelitik, bermain dokter-dokteran atau mengajak mereka bermain gulat (jika putra anda laki2). Jika jawabannya ya, ingatkan anak untuk waspada dan Anda sebagai orangtua harus menghadapi pelaku dan melarangnya dengan tegas melakukan itu pada anak.

5. Pelecehan

Saat anak tak bisa menolak atau ketakutan, pelaku leluasa melakukan pelecehan. Saat ini terjadi, maka orangtua bisa bertindak menandai sinyal-sinyal anak sebagai korban pelecehan seksual.